Daerah

IKMAT Nabire Kecam Pembakaran Mahkota Burung Cenderawasih, Nilai Sakral Budaya Papua Tersakiti

Published

on

<p><&excl;-- BEGIN THEIA POST SLIDER -->&NewLine;&NewLine;<figure class&equals;"wp-block-image size-full"><img src&equals;"https&colon;&sol;&sol;papuatengah&period;info&sol;news&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2025&sol;10&sol;1000071456&period;jpg&quest;v&equals;1761180700" alt&equals;"" class&equals;"wp-image-5102" &sol;><&sol;figure>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Nabire&comma; Papua Tengah—centralmedia &&num;8211&semi;<br>Tindakan pembakaran delapan mahkota burung cenderawasih oleh aparat negara di Jayapura menuai kecaman keras dari berbagai pihak&comma; terutama masyarakat adat Papua&period;<br>Ikatan Kerukunan Masyarakat Adat Tabi &lpar;IKMAT&rpar; Kabupaten Nabire&comma; Papua Tengah&comma; menyatakan bahwa langkah tersebut telah melukai nilai-nilai sakral dan spiritual yang selama ini dijunjung tinggi dalam kebudayaan Papua&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Peristiwa yang terjadi pada Selasa &lpar;22&sol;10&sol;2025&rpar; ketika Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam &lpar;BBKSDA&rpar; Papua melakukan pemusnahan barang bukti hasil patroli terpadu berupa delapan Mahkota Curung Cenderawasih dan sejumlah opset satwa dilindungi lainnya&period; Proses pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar di Kota Jayapura&comma; disaksikan oleh 74 personel gabungan dari berbagai instansi&comma; termasuk TNI&comma; Polri&comma; Dinas Kehutanan&comma; Balai Karantina&comma; dan otoritas pelabuhan&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Menurut penjelasan BBKSDA Papua&comma; tindakan tersebut dilakukan dalam rangka penegakan hukum dan memutus rantai perdagangan ilegal satwa dilindungi&period; Namun&comma; kebijakan itu justru memantik kemarahan publik&period;<br>Bagi masyarakat adat Papua&comma; mahkota burung cenderawasih bukan sekadar barang bukti&comma; melainkan simbol kehormatan dan spiritualitas yang hanya boleh dikenakan oleh Ondoafi atau kepala suku dalam upacara adat tertentu&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<figure class&equals;"wp-block-image size-full"><img src&equals;"https&colon;&sol;&sol;papuatengah&period;info&sol;news&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2025&sol;10&sol;1000071453&period;jpg&quest;v&equals;1761180723" alt&equals;"" class&equals;"wp-image-5103" &sol;><&sol;figure>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p><strong>Luka Budaya dan Kecaman Adat<&sol;strong>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>IKMAT Nabire menilai pembakaran tersebut telah mencederai martabat budaya dan menjadi bentuk ketidaksensitifan negara terhadap nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat Papua&period;<br>Mahkota Burung Cenderawasih adalah lambang jiwa&comma; kebanggaan&comma; dan kehormatan orang Papua&period; Membakarnya sama saja dengan membakar simbol identitas orang Papua&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Dalam pernyataan tersebut&comma; IKMAT menegaskan bahwa pembangunan sejati di tanah Papua seharusnya berakar pada adat&comma; spiritualitas&comma; dan kearifan lokal&period; Tindakan negara yang tidak memahami makna simbol adat dapat menimbulkan luka sosial dan ketegangan antara pemerintah dan masyarakat adat&period;<div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Ketika negara dan lembaga keagamaan tidak bersinergi dengan nilai-nilai adat&comma; maka pembangunan berubah menjadi luka&period; Burung Cenderawasih bukan sekadar fauna&comma; ia adalah lambang hidup orang Papua&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p><strong>Desakan Permintaan Maaf dan Evaluasi Prosedur<&sol;strong>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>IKMAT Nabire melalui sikap resminya menolak segala bentuk pelecehan terhadap simbol adat dan spiritual Papua&comma; termasuk tindakan destruktif terhadap Mahkota Burung Cenderawasih&period;<br>Mereka juga mendesak agar pemerintah dan aparat negara menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Papua&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Selain itu&comma; IKMAT meminta pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pemusnahan barang bukti yang berkaitan dengan benda-benda yang memiliki nilai budaya dan sakralitas tinggi&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Menurut IKMAT&comma; penegakan hukum seharusnya dilakukan dengan pendekatan budaya dan dialog&comma; bukan dengan tindakan simbolik yang melukai identitas masyarakat&period;<div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Pihaknya juga mengingatkan bahwa hukum dan konservasi tidak boleh menegasikan nilai-nilai adat&period; Sebaliknya&comma; pelestarian lingkungan dan satwa justru harus menjadi bagian dari penghormatan terhadap budaya lokal yang selama ini menjaga keseimbangan alam secara turun-temurun&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p><strong>Ajakan untuk Membangun Papua dengan Kearifan Lokal<&sol;strong><br>IKMAT mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun Papua dengan pendekatan manusiawi&comma; reflektif&comma; dan berakar pada kearifan lokal&period;<br>Organisasi adat ini berkomitmen untuk terus menjadi penjaga nilai&comma; penghubung generasi&comma; dan pelayan kebenaran demi Papua yang bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Tegas IKMAT&comma; adat&comma; pemerintah&comma; dan lembaga keagamaan seharusnya menjadi fondasi pembangunan&comma; bukan alat penyeragaman yang mengabaikan nilai-nilai lokal&period; Pembangunan sejati lahir dari penghormatan terhadap adat&comma; iman&comma; dan kemanusiaan&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Sementara itu&comma; pihak BBKSDA Papua sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Papua atas dampak sosial yang timbul dari pemusnahan tersebut&period; Mereka menyebut tindakan itu semata-mata dilakukan dalam rangka menegakkan hukum dan melindungi kelestarian burung cenderawasih di habitat alaminya&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Meski demikian&comma; sejumlah tokoh adat&comma; anggota DPR Papua&comma; dan kelompok masyarakat masih menilai langkah itu tidak sensitif secara budaya&period; Mereka menegaskan bahwa pelestarian alam dan penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara yang menyinggung nilai-nilai adat dan spiritual masyarakat Papua&period;<div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Pernyataan IKMAT&comma; bahwa &colon;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>1&period; Adat&comma; pemerintah&comma; dan lembaga keagamaan seharusnya menjadi fondasi pembangunan&comma; bukan alat penyeragaman yang mengabaikan nilai-nilai lokal&period;<br>2&period; Penegakan hukum harus dilakukan dengan pendekatan budaya dan dialog&comma; bukan dengan tindakan simbolik yang melukai identitas masyarakat&period;<br>3&period; Kami menolak segala bentuk pelecehan terhadap simbol adat dan spiritual Papua&comma; termasuk tindakan destruktif terhadap mahkota cenderawasih&period;<br>4&period;Kami mendesak pemerintah dan aparat negara untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Papua&comma; serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pemusnahan barang bukti yang menyangkut simbol budaya&period;<br>5&period; Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun Papua dengan pendekatan yang manusiawi&comma; reflektif&comma; dan berbasis kearifan lokal&period; &lpar;&ast;&ast;&ast;&rpar;&NewLine;&NewLine;<p><&excl;-- END THEIA POST SLIDER -->

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending

Exit mobile version