Politics

PBNU-PGI Dorong MPR Rumuskan Konsensus Kebangsaan

Published

on

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bersama Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Jacky Manuputty (tidak tampak) menjadi pembicara dalam diskusi Forum Kramat di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (13/6/2025).

<p><&excl;-- BEGIN THEIA POST SLIDER -->&NewLine;&NewLine;<p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia mendorong Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk dapat mengambil inisiatif dalam merumuskan konsensus-konsensus kebangsaan&period; Konsensus tersebut dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menjadi rujukan nilai untuk menyikapi berbagai perbedaan dan konflik sosial yang berkembang di masyarakat&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Forum Kramat yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama &lpar;PBNU&rpar; bertajuk ”Pentingnya Konsensus Kebangsaan” di kantor PBNU&comma; Jakarta&comma; Jumat &lpar;13&sol;6&sol;2025&rpar;&period; Hadir sebagai pembicara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia &lpar;PGI&rpar; Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Yahya atau akrab disapa Gus Yahya mengatakan&comma; konflik dan perbedaan merupakan hal alami dalam dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk&period; Perbedaan masih dipersoalkan karena aturan hukum tertulis tersebut tidak mengatur aspek operasional teknis pelaksanaannya&period; Terlebih&comma; dinamika masyarakat yang terus berkembang membuat muncul potensi-potensi konflik baru di masyarakat&period;<div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Padahal&comma; di masa lalu&comma; perbedaan tidak menyurutkan bangsa Indonesia dalam merumuskan fondasi negara&comma; yakni Pancasila&comma; Bhinneka Tunggal Ika&comma; NKRI&comma; dan Undang-Undang Dasar 1945&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>”Saya kira kita sangat membutuhkan cara-cara yang lebih kuat untuk menjadi rujukan bagi penyelesaian berbagai macam perbedaan dan pertentangan yang memang secara alami ada dalam masyarakat&comma;” ujar Gus Yahya&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Ia melanjutkan&comma; perkembangan sosial&comma; ekonomi&comma; dan teknologi telah memunculkan isu-isu baru yang belum memiliki landasan nilai yang disepakati secara nasional&period; Sejumlah pasal dalam UUD 1945 juga belum terjabarkan secara etik ataupun operasional&period; Contohnya adalah pasal soal kebebasan beragama&comma; hak berserikat&comma; serta pengelolaan sumber daya alam&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Tiap-tiap elemen bangsa cenderung memaknai aturan itu sesuai kebutuhan masing-masing&period; Bahkan&comma; ada yang mengakali aturan tersebut agar tidak dianggap melanggar aturan&period; Akibatnya&comma; implementasi nilai-nilai luhur yang disepakati oleh para pendiri bangsa terkadang tidak sesuai dengan harapan&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Iklan<div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Iklan&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>”Kita membutuhkan penjabaran yang lebih operasional dari nilai-nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat supaya macam-macam perbedaan yang muncul memiliki saluran untuk menyelesaikannya sebagai jalan keluarnya&period; Ada semacam kisi-kisi tentang cara dan koridor dalam menyelesaikan perbedaan&comma;” ucap Gus Yahya&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<figure class&equals;"wp-block-image size-full"><img src&equals;"https&colon;&sol;&sol;papuatengah&period;info&sol;news&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2025&sol;06&sol;image-14&period;png" alt&equals;"" class&equals;"wp-image-1033" &sol;><&sol;figure>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Oleh karena itu&comma; Gus Yahya kembali mengingatkan gagasan dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah mengusulkan agar MPR menjadi forum untuk merumuskan konsensus kebangsaan&period; Sebab&comma; MPR memiliki posisi strategis untuk memimpin proses musyawarah nasional tentang nilai-nilai dasar&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Produk yang dihasilkan bukanlah ketetapan MPR&comma; melainkan kesepakatan yang lebih teknis&period; Konsensus tersebut lebih bersifat pada nilai-nilai luhur yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>”Saya sebetulnya ingin menyampaikan permintaan kepada MPR untuk memikirkan perumusan konsensus-konsensus kebangsaan&period; Dan kalau bisa mengambil inisiatif untuk memimpin proses ini karena kita butuh banget&comma; nih&period; Kalau dibiarkan begini&comma; ini&nbsp&semi;<em>ndak<&sol;em>&nbsp&semi;karu-karuan&comma;” tuturnya<em>&period;<&sol;em><div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<h2 class&equals;"wp-block-heading">Modal kuat bangun konsensus<&sol;h2>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Menurut Jacklevyn&comma; masyarakat Indonesia memiliki karakter guyub&period; Karakter ini dapat dijadikan modal kuat dalam membangun konsensus-konsensus kebangsaan&period; Karakter itu telah terbukti efektif dalam merumuskan empat fondasi negara dari kelompok yang berbeda latar belakang&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>”Kita punya memori kolektif yang luar biasa bahwa kita mampu melakukan itu dan itu kuat sampai saat ini&comma;” katanya&period;&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p>Akan tetapi&comma; kata Jacklevyn&comma; tantangan dalam membangun konsensus pada era sekarang ini lebih sulit dibandingkan pada masa kemerdekaan&period; Kala itu&comma; tantangan dari bangsa Indonesia hanya ingin menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri&period; Tujuan yang homogen itu bahkan cenderung dirasakan oleh masyarakat masa lampau&period;&NewLine;&NewLine;<p><&excl;-- END THEIA POST SLIDER --><div class&equals;"mvp-post-ad-wrap"><span class&equals;"mvp-ad-label">Advertisement<&sol;span><div class&equals;"mvp-post-ad"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-3745733846031431"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- Article Inline Ads -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;block"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-3745733846031431"&NewLine; data-ad-slot&equals;"7872616854"&NewLine; data-ad-format&equals;"auto"&NewLine; data-full-width-responsive&equals;"true"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div>

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Trending

Exit mobile version