Nabire, Papua Tengah—centralmedia – Tindakan pembakaran delapan mahkota burung cenderawasih oleh aparat negara di Jayapura menuai kecaman keras dari berbagai pihak, terutama masyarakat adat Papua. Ikatan Kerukunan Masyarakat Adat Tabi (IKMAT) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menyatakan bahwa langkah tersebut telah melukai nilai-nilai sakral dan spiritual yang selama ini dijunjung tinggi dalam kebudayaan Papua.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (22/10/2025) ketika Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melakukan pemusnahan barang bukti hasil patroli terpadu berupa delapan Mahkota Curung Cenderawasih dan sejumlah opset satwa dilindungi lainnya. Proses pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar di Kota Jayapura, disaksikan oleh 74 personel gabungan dari berbagai instansi, termasuk TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Balai Karantina, dan otoritas pelabuhan.
Menurut penjelasan BBKSDA Papua, tindakan tersebut dilakukan dalam rangka penegakan hukum dan memutus rantai perdagangan ilegal satwa dilindungi. Namun, kebijakan itu justru memantik kemarahan publik. Bagi masyarakat adat Papua, mahkota burung cenderawasih bukan sekadar barang bukti, melainkan simbol kehormatan dan spiritualitas yang hanya boleh dikenakan oleh Ondoafi atau kepala suku dalam upacara adat tertentu.
Luka Budaya dan Kecaman Adat
IKMAT Nabire menilai pembakaran tersebut telah mencederai martabat budaya dan menjadi bentuk ketidaksensitifan negara terhadap nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat Papua. Mahkota Burung Cenderawasih adalah lambang jiwa, kebanggaan, dan kehormatan orang Papua. Membakarnya sama saja dengan membakar simbol identitas orang Papua.
Dalam pernyataan tersebut, IKMAT menegaskan bahwa pembangunan sejati di tanah Papua seharusnya berakar pada adat, spiritualitas, dan kearifan lokal. Tindakan negara yang tidak memahami makna simbol adat dapat menimbulkan luka sosial dan ketegangan antara pemerintah dan masyarakat adat.
Advertisement
Ketika negara dan lembaga keagamaan tidak bersinergi dengan nilai-nilai adat, maka pembangunan berubah menjadi luka. Burung Cenderawasih bukan sekadar fauna, ia adalah lambang hidup orang Papua.
Desakan Permintaan Maaf dan Evaluasi Prosedur
IKMAT Nabire melalui sikap resminya menolak segala bentuk pelecehan terhadap simbol adat dan spiritual Papua, termasuk tindakan destruktif terhadap Mahkota Burung Cenderawasih. Mereka juga mendesak agar pemerintah dan aparat negara menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Papua.
Selain itu, IKMAT meminta pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pemusnahan barang bukti yang berkaitan dengan benda-benda yang memiliki nilai budaya dan sakralitas tinggi.
Menurut IKMAT, penegakan hukum seharusnya dilakukan dengan pendekatan budaya dan dialog, bukan dengan tindakan simbolik yang melukai identitas masyarakat.
Advertisement
Pihaknya juga mengingatkan bahwa hukum dan konservasi tidak boleh menegasikan nilai-nilai adat. Sebaliknya, pelestarian lingkungan dan satwa justru harus menjadi bagian dari penghormatan terhadap budaya lokal yang selama ini menjaga keseimbangan alam secara turun-temurun.
Ajakan untuk Membangun Papua dengan Kearifan Lokal IKMAT mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun Papua dengan pendekatan manusiawi, reflektif, dan berakar pada kearifan lokal. Organisasi adat ini berkomitmen untuk terus menjadi penjaga nilai, penghubung generasi, dan pelayan kebenaran demi Papua yang bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tegas IKMAT, adat, pemerintah, dan lembaga keagamaan seharusnya menjadi fondasi pembangunan, bukan alat penyeragaman yang mengabaikan nilai-nilai lokal. Pembangunan sejati lahir dari penghormatan terhadap adat, iman, dan kemanusiaan.
Sementara itu, pihak BBKSDA Papua sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Papua atas dampak sosial yang timbul dari pemusnahan tersebut. Mereka menyebut tindakan itu semata-mata dilakukan dalam rangka menegakkan hukum dan melindungi kelestarian burung cenderawasih di habitat alaminya.
Meski demikian, sejumlah tokoh adat, anggota DPR Papua, dan kelompok masyarakat masih menilai langkah itu tidak sensitif secara budaya. Mereka menegaskan bahwa pelestarian alam dan penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara yang menyinggung nilai-nilai adat dan spiritual masyarakat Papua.
1. Adat, pemerintah, dan lembaga keagamaan seharusnya menjadi fondasi pembangunan, bukan alat penyeragaman yang mengabaikan nilai-nilai lokal. 2. Penegakan hukum harus dilakukan dengan pendekatan budaya dan dialog, bukan dengan tindakan simbolik yang melukai identitas masyarakat. 3. Kami menolak segala bentuk pelecehan terhadap simbol adat dan spiritual Papua, termasuk tindakan destruktif terhadap mahkota cenderawasih. 4.Kami mendesak pemerintah dan aparat negara untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Papua, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pemusnahan barang bukti yang menyangkut simbol budaya. 5. Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun Papua dengan pendekatan yang manusiawi, reflektif, dan berbasis kearifan lokal. (***)
Pemprov Papua Tengah menggelar rapat koordinasi TPID di Nabire untuk membahas lonjakan harga pangan. Dok_Humas PPT
Share berita :
Nabire, PT | Papuatengah.info – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Ruang Rapat Wakil Gubernur, Rabu (29/4/2026).
Rapat ini membahas lonjakan harga pangan di sejumlah wilayah, terutama di daerah pegunungan.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan memimpin langsung rapat bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Nabire dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) strategis.
Mereka merespons kenaikan harga kebutuhan pokok yang dinilai signifikan.Kabupaten Intan Jaya menjadi perhatian utama dalam rapat tersebut.
Advertisement
Data menunjukkan harga beras di wilayah itu naik hingga 9,33 persen.
Selain itu, harga minyak goreng, telur, dan daging ayam juga tercatat melampaui rata-rata nasional.
Pemerintah menilai kondisi geografis yang sulit, hambatan distribusi, serta ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor utama kenaikan harga.
Karena itu, Pemprov Papua Tengah menyiapkan langkah cepat untuk mengendalikan inflasi.
Selanjutnya, pemerintah menjalankan enam langkah konkret sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri.
Langkah tersebut meliputi operasi pasar, pengawasan distribusi, hingga pencegahan penimbunan bahan pokok.
Advertisement
Di sisi lain, Pemprov juga menyiapkan strategi jangka panjang. Pemerintah mendorong peningkatan produksi pangan lokal, memperkuat peran TPID kabupaten, serta membangun sistem pemantauan harga berbasis data secara real-time.
Selain itu, pemerintah memperluas program gerakan pangan murah dan gerakan menanam sebagai upaya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan menegaskan bahwa seluruh intervensi harus tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya langkah yang cepat, spesifik wilayah, dan berbasis data.
“Tujuan utama kami adalah menjaga daya beli masyarakat dan memastikan gejolak harga tidak mengganggu stabilitas sosial ekonomi,” ujarnya.
Pemerintah berharap langkah-langkah tersebut mampu mengendalikan inflasi, terutama menjelang periode meningkatnya permintaan masyarakat di Papua Tengah. (*)
Asisten I Setda Papua Tengah Alanthino Wiay membuka seminar wawasan kebangsaan di Aula RRI Nabire, Rabu (29/4/2026). Dok_Humas PPT
Share berita :
Nabire, PT | Papuatengah.info – Pemerintah Provinsi Papua Tengah membuka kegiatan wawasan kebangsaan di Aula RRI Nabire, Rabu (29/4/2026), sebagai upaya memperkuat nasionalisme dan menjaga persatuan menjelang momentum 1 Mei.
Asisten I Sekretaris Daerah Papua Tengah, Alanthino Wiay, mewakili Gubernur Meki Nawipa, memimpin langsung pembukaan kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar ini memiliki nilai strategis karena bertepatan dengan refleksi sejarah 1 Mei 1963.
Menurutnya, momentum tersebut menandai awal tanggung jawab pembangunan yang terus berjalan hingga saat ini.
Advertisement
Pemerintah daerah terus mendorong pemerataan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua Tengah.
“Tema yang kita angkat hari ini menjadi refleksi sejarah sekaligus komitmen kebangsaan. Persatuan yang kita rasakan saat ini lahir dari perjuangan panjang,” ujar Alanthino.
Ia kemudian menekankan tiga poin utama dalam kegiatan ini. Pertama, peserta perlu menjaga ingatan kolektif tentang sejarah perjuangan bangsa.
Kedua, generasi muda harus memahami sejarah secara utuh agar tetap memiliki identitas kebangsaan yang kuat.
Ketiga, seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat semangat nasionalisme di tengah keberagaman.
Selain itu, Alanthino mengajak generasi muda untuk aktif berpartisipasi dalam forum diskusi.
Advertisement
Ia mendorong peserta tidak hanya mendengar, tetapi juga berpikir kritis dan menggali pengetahuan secara mendalam.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pimpinan organisasi, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, hingga pelajar dan mahasiswa.
Kehadiran mereka mencerminkan semangat kolaborasi dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, forum seperti ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kesadaran kolektif.
Para peserta tidak hanya mengikuti seminar, tetapi juga membangun pemahaman bersama tentang pentingnya menjaga Papua tetap damai dan bersatu.
Advertisement
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap nilai-nilai sejarah dan cinta tanah air terus tumbuh, sekaligus menjadi fondasi dalam mendorong pembangunan yang lebih maju dan sejahtera. (*)
Eliezer Yogi Kepala Bapperida Papua Tengah saat diwawancarai awak media di aula ballroom setelah mengikuti Musrenbang hari kedua. Rabu (29/4/2026). Dok-Alvi
Share berita :
Nabire, PT | Papuatengah.info – Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, menjelaskan bahwa pelaksanaan Musrenbang Otonomi Khusus dan RKPD Tahun 2027 digelar selama tiga hari.
Pada hari kedua, agenda difokuskan pada pembahasan usulan program dari delapan kabupaten di Papua Tengah yang akan dibiayai melalui dana Otonomi Khusus (Otsus). Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan kebutuhan daerah dengan kebijakan pembangunan provinsi.
“Hari ini kami fokus membahas program kegiatan dari kabupaten-kabupaten yang akan dibiayai melalui dana Otonomi Khusus. Ini penting agar kebutuhan masyarakat di daerah bisa terakomodasi dengan baik,” ujar Eliezer Yogi di Aula Ballroom, Nabire.
Advertisement
Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan telah dibuka oleh Gubernur Papua Tengah dan diisi pemaparan materi dari sejumlah narasumber nasional maupun lokal, seperti Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, BPKP, perguruan tinggi, hingga Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).
Menurut Eliezer, kehadiran para narasumber tersebut bertujuan memberikan masukan strategis sesuai kondisi Papua Tengah saat ini, termasuk persoalan kesehatan, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan daerah.
“Materi yang disampaikan para narasumber sangat bermanfaat dan mendapat apresiasi dari peserta kabupaten karena sesuai dengan kebutuhan pembangunan Papua Tengah saat ini,” katanya.
Eliezer menambahkan, pada hari kedua pihaknya juga mengundang DPR Papua Tengah jalur pengangkatan Otsus serta Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk menyampaikan aspirasi hasil kunjungan lapangan dan reses.
Hal itu dilakukan agar program yang disusun benar-benar menjawab persoalan masyarakat sesuai kewenangan pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Advertisement
Sementara pada hari ketiga, agenda akan dilanjutkan dengan Musrenbang RKPD yang membahas usulan program dari sumber pendanaan lain di luar dana Otsus.
“Kami ingin ke depan ada kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah provinsi, kabupaten, DPR, dan MRP agar persoalan daerah bisa diselesaikan bersama sesuai kemampuan anggaran dan kewenangan masing-masing,” tutupnya. (*)
Nabire, Papua Tengah | Papuatengah.info — Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, menegaskan pentingnya sinkronisasi program pembangunan dan penguatan ekonomi lokal dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Otonomi Khusus dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 28–30 April 2026, di Aula Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, menjadi forum strategis untuk menyelaraskan arah pembangunan berbasis kebutuhan dan potensi wilayah.
Dalam pembukaan, Eliezer Yogi menekankan bahwa tema “Penguatan Ekonomi Lokal dan Daya Saing Daerah Berbasis Potensi Wilayah” mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
“Pembangunan harus dimulai dari potensi daerah sendiri. Karena itu, sinkronisasi program menjadi kunci agar setiap kebijakan benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir, mulai dari unsur pemerintah pusat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala OPD, akademisi, hingga mitra pembangunan.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan pembangunan.
Musrenbang ini diikuti sekitar 600 peserta yang berasal dari delapan kabupaten di Papua Tengah, termasuk perwakilan pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh masyarakat, organisasi perempuan dan pemuda, serta media. Namun, Bupati Mimika dilaporkan tidak hadir dalam pembukaan kegiatan.
Lebih lanjut, forum ini bertujuan menyelaraskan usulan program prioritas dari tingkat kabupaten ke provinsi, sekaligus memastikan pembangunan berjalan inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah juga menetapkan sepuluh program prioritas yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur.
Dalam hal ini, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus utama untuk mendorong ekonomi kerakyatan.
Untuk memperkaya pembahasan, sejumlah narasumber dari kementerian, lembaga pengawasan, akademisi, dan mitra pembangunan turut memberikan paparan.
Kehadiran mereka diharapkan mampu menghadirkan solusi konkret atas berbagai tantangan pembangunan di Papua Tengah.
Sementara itu, Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, dalam arahannya menekankan pentingnya kehadiran seluruh pemangku kepentingan, termasuk anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), dalam forum strategis tersebut.
Ia juga mendorong agar pembangunan difokuskan pada sektor pangan dan peternakan, serta memperhatikan kondisi geografis wilayah, khususnya di daerah pegunungan.
Menurutnya, penyelarasan program antarwilayah menjadi langkah penting untuk memastikan pembangunan berjalan merata dan berkeadilan di seluruh Papua Tengah.
Di tengah dinamika yang berkembang, Musrenbang ini diharapkan tidak hanya menjadi forum perencanaan, tetapi juga ruang untuk menyatukan komitmen bersama dalam membangun Papua Tengah yang mandiri, berdaya saing, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (*)
Nabire, Papua Tengah | Papuatengah.info – Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Paulina Marey, menanggapi sindiran tegas Gubernur Meki Nawipa terkait ketidakhadiran Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, dalam pembukaan Musrenbang Otsus dan RKPD Tahun 2027.
di Aula Ballroom Gubernur Provinsi Papua Tengah. Selasa (28/4/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur Meki Nawipa menekankan pentingnya kehadiran pimpinan MRP dalam forum strategis tersebut.
“Musrenbang ini penting, ketua MRP harus hadir, jangan hadir di akun TikTok saja goyang-goyang atau joget-joget. Ketua dan anggota wajib hadir sampai penutupan,” Tegas Meki Nawipa.
Advertisement
Menanggapi hal tersebut, Paulina Marey menegaskan bahwa MRP tetap berkomitmen menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, khususnya dalam mengawal dana Otonomi Khusus (Otsus).
Ia menjelaskan bahwa meskipun gaji merupakan hak yang diterima anggota atas kerja mereka, pengelolaan dana Otsus tidak langsung berada di bawah kendali MRP.
“Kalau dana itu langsung ke MRP dan bisa kami atur hingga ke titik-titik tertentu, tentu kami akan laksanakan seperti yang disampaikan Bapak Gubernur. Namun selama ini kami belum sepenuhnya mengetahui alur dana tersebut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Paulina menyampaikan bahwa ketidakhadiran Ketua MRP disebabkan oleh situasi daerah yang sedang membutuhkan perhatian, termasuk kondisi keamanan di Timika.
Ia berharap Ketua MRP dapat segera bergabung dalam kegiatan tersebut.
Advertisement
Selain itu, ia memastikan bahwa anggota MRP tetap berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian Musrenbang hingga penutupan.
“Kami akan hadir sampai hari terakhir. Ini adalah tanggung jawab kami agar dana Otsus benar-benar sampai dan dirasakan oleh masyarakat,” tutupnya. (*)
Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs kami. Dengan menggunakan situs kami, Anda menyetujui penggunaan cookies.
Situs web ini menggunakan cookie
Situs web menyimpan cookie untuk meningkatkan fungsionalitas dan mempersonalisasi pengalaman Anda. Anda dapat mengelola preferensi Anda, tetapi memblokir beberapa cookie dapat memengaruhi kinerja dan layanan situs.
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
Name
Description
Duration
Cookie Preferences
This cookie is used to store the user's cookie consent preferences.
30 days
These cookies are needed for adding comments on this website.
Name
Description
Duration
comment_author_url
Used to track the user across multiple sessions.
Session
comment_author
Used to track the user across multiple sessions.
Session
comment_author_email
Used to track the user across multiple sessions.
Session
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Google Analytics is a powerful tool that tracks and analyzes website traffic for informed marketing decisions.
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager
1 minute
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
_gac_
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.