Barat modern telah memilih materialisme sebagai pandangan dunia. Kapitalisme sebagai ideologi mereka. Pragmatisme sebagai sistem nilai. Dan positivisme dan saintisme sebagai paradigma epistemologi dan pedagogi. Dan bangsa kita menelannya bulat-bulat, tanpa kewaspadaan. Hanya copyfaste karena ingin menjadi seperti Barat. Sementara kita kan Bangsa Pancasila.
Pandangan dunia kita seharusnya Ketuhanan yang maha esa. Yaitu sebagai bangsa ber-Tuhan. Pandangan dunia materialisme tidak punya celah sedikitpun untuk menaruh dimensi eksistensi Tuhan yang metafisik. Di negara Pancasila kita tak membolehkan untuk memberlakukan modal adalah segalanya. Ideologi kita adalah ideologi Gotongroyong, dan bukan kapitalisme. Dan disposesi yang meliputi sains dan metafisika adalah paradigma dan pedagogi kita. Dimana kita tetap tidak meninggalkan sains namun kita juga tidak meninggalkan metafisika.
Advertisement
Sementara pendidikan Pesantren dengan tumpukan ribuan Kitab Kuning selama ini, miskin penelitian ilmiah. Ini sebuah otokritik. Dan hanya berkutat pada level satu dan dua Taksonomi Bloom, yaitu transfer knowledge dan understanding. Sementara ranah praktek kehidupan didapat dari keteladanan dari kiai masing-masing. Bukan dari sumber filsafat teori dan prakteknya.
Barat memberlakukan sistem pendidikan modern yang berbasis positvisme dan empirisme yang disebut sains yang menghasilkan teknologi. Paradigma ini dipaksakan sejak awal Indonesia Merdeka semenjak diberlakukannya RERA oleh kabinet Mohammad Hatta tahun 1947. Dan westernisasi pendidikan nasional makin santer sejak rezim Orde Baru. Seolah-oleh kita tak mungkin meraih keduanya dan hanya boleh memilih satu saja antara sains dan agaama. Sehingga benak masyarakat dipenuhi sekolah umum dan sekolah agama, bahkan ada sekolah yang dikelola Depdikbid dan Depag. Ini indikasi dari bahwa kita belum memahami mendasar dan substansial mengenai paradigma epistemologis dan pedagogi yang akan kita anut semestinya.
Karena menganggap modernitas sebagai simbol kemajuan, dan masyarakat Barat sebagai masyarakat maju berkat sains dan teknologi, bangsa Indonesia memandang dunia Barat adalah sentra peradaban modern yang harus diikuti keseluruhannya tanpa koreksi sedikitpun.
Karena menganggap Barat sebagai sentra peradaban yang berhasil menciptakan masyarakat sejahtera dan maju berkat sistem pendidikan modern, masyarakat Indonesia berlomba menirunya demi memenuhi mendapatkan pengakuannya. Terlebih setelah Orde Baru berkuasa. Westernisasi di Indonesia berjalan sangat masif.
Atas dasar itu, didirikankah banyak institusi penyelenggara pendidikan berdasarkan paradigma dan sistem pendidikan Barat modern di dunia Timur.
Advertisement
Dalam sistem pendidikan akademik modern yang berkiblat ke Barat setiap peserta didik agar dinyatakan lulus dan sah menjadi sarjana diwajibkan mengikuti prosedur dan mekanisme yang ditetapkan oleh otoritas pendidikan.
Salah satu syarat memperoleh sertifikat kompetensi adalah menulis tulisan yang disebut karya ilmiah yang akan diterima bila telah dinilai sesuai standar dan kriteria ilmiah.
Mahasiswa dijejali doktrin bahwa karya ilmiah adalah pandangan-pandangan di dalamnya didukung atau bersandar pada pandangan lain yang dianggap ilmiah yang telah dikemukakan oleh tokoh ternama.
Skripsi, tesis dan disertasi yang padat dengan referensi lebih mudah diluluskan dan mendapatkan predikat sangat memuaskan. Syarat ini juga berlaku atas artikel yang akan dimuat dalam jurnal ilmiah terkemuka sebagai penyempurna syarat kelulusan seorang doktor berdasarkan ketentuan rezim akademi modern.
Dengan kata lain, sebuah pandangan hanya bisa diterima bila punya sandaran pandangan lain yang bermuara kepada pemikiran Barat.. Tanpa ragam rujukan yang dianggap kredibel dan nama tokoh yang dikenal luas sebagai pakar di ekor setiap paragraf, ratusan halaman yang boleh jadi memuat pandangan-pandangan orisinal tak akan dianggap sebagai karya ilmiah oleh rezim sains dan pendidikan.
Advertisement
Doktrin ini bermasalah karena beberapa alasan sebagai berikut:
Ilmiah adalah frasa yang sudah dimonopoli oleh sains dan ilmu empris dan positif. Ilmiah dalam konteks ini, adalah sesuatu yang bersifat saintifik. Padahal sesuatu dianggap ilmiah belum tentu ilmiah secara empiris, dan sesuatu yang ilmiah secara empiris belum ilmiah secara rasional (dalam pengertian luas).
Bila sesuatu baru dianggap ilmiah karena didasarkan pada pandangan lain sebelumnya, maka ketentuan yang sama berlaku atas pandangan yang dijadikan rujukan itu. Itu artinya, parameter validitas dan kebenarannya bukan akurasi pandangan yang dikemukakan juga bukan pandangan yang jadi rujukannya..
Pandangan lain dijadikan sandaran bagi sebuah pandangan didasarkan pada dua kemungkinan, a) subjek pandangannya, b) ketokohan nama di balik pandangannya. Bila dijadikan sandaran karena pandangannya, keilmiahannya ditentukan oleh pandangan sebelumnya, yang juga didasarkan pada pandangan sebelumnya dan begitulah seterusnya dalam regresi. Bila dijadikan sandaran karena penyampainya, maka ia justru tidak ilmiah sama sekali karena tidak didukung atau tidak disandarkan padangan lain. Bila setiap pandangan harus didasarkan pada pandangan lain yang mendukungnya, maka peluang melahirkan pandangan orisinal tertutup karena tak memenuhi standar ilmiah rezim sain dan akademi.
Pada dasarnya yang kerap disebut ilmiah (baca : empiris) tidak benar-benar empiris dan tetap memerlukan justifikasi rasional murni (yang dianggap tidak ilmiah), karena ia sebuah teori hanya bisa dipastikan empiris bagi yang mengalami atau melakukan percobaan terhadapnya.
Dalam logika deduktif, kebenaran (keilmiahan) sebuah premis (pandangan, teori) ditentukan oleh keherensi dan korespondensi, bukan ditentukan adanya pandangan lain yang menjadi referensinya atau tokoh terkemuka yang menjustifikasinya.
Dalam filsafat metafisika Hikmah Mutaaliyah Sadra dan IIsyraqiyah Suhrawardi, kebenaran ditentukan oleh eksistensinya yang bersemayam di balik setiap pikiran. Bila tak lagi bersandar dan tak punya mengapa, apa dasarnya, maka.itulah dasarnya. Pengetahuan biang adalah dasar dan juri tunggal kebenaran. Bila sebuah pandangan meski tanpa rujukan pandangan bisa divalidasi secara langsung pada materi dan forma proposisi, maka ia valid meski tak dianggap ilmiah oleh rezim footnote.
Akibat ketentuan harus mengutip pandangan lain sebagai rujukan dan pendukung, kreasi intelektual dengan pikiran-pikiran organik terhambat dan plragiarsi eksplisit dan implisit kerap terjadi yang justru menyuburkan tumbuhnya ilmuwan intektual dan akademisi palsu.
Dominasi saintisme dan positivisme sejak Renaissance dan Aufklarung telah mematikan epistemologi rasional murni yang secara tidak langsung mengeluarkan filsafat dari lingkaran ilmu dan meringkus matematika murni dalam penjara apa yang dulu disebut ilmu eksakta dan fisika dengan calculus probabilty yang ternyata lebih heboh dengan ramalan-ramalan ketimbang fakta-fakta empiris.
Sebagai dampak dari penjahahan metodologi ini, filsafat sebagai pengetahuan universal dan integral yang semula merupakan polar tandingan sains, dibonsai dan dimutilasi menjadi batangan-batangan bidang partikular yang harus “ilmiah” seperti filsafat hukum, filsafat politik dan mungkin kelak akan lahir filsafat kimia, peternakan dan sebagainya.
Nasib yang lebih tragis menimpa ilmu-ilmu agama yang, karena latah dengan modernisasi pendidikan tradisional dan fomalisasi seminari, dimasukkan secara paksa dalam humaniora dan rumpun ilmu sosial yang positvistik.
Akhirnya, transfer pengetahuan dan alih tekonologi hanyalah jargon omong kosong. Yang justru terjadi adalah kolonialisasi pandangan dunia materialiasme atas nama sains, ideologi kapitalisme atas nama pasar bebas, paradigma eksistensialisme atas nama free will, sistem nilai pragmatisme dan gaya hidup borjuisme dan individualisme yang menghambat kreasi intelektual dan kemandirian bangsa-bangsa di dunia Timur yang mayoritasnya beragama Islam dalam pelbagai bidang.
Nyatanya Barat dengan segala tipu dayanya kini mulai melemah. Cina, Rusia, Iran punya jalan paradigma epistemologi dan pedagoginya sendiri. Sainteknya tak ketinggalan dari Barat bahkan terus melesat. Bahkan dalam segala bidang termasuk teknologi pertahanan. Hegemoni militer Barat bahkan kini dipecundangi oleh pasukan Sandal Jepit dari Yaman. Data strategi militer dan industri Nuklir Israel di tangan Mossad kini pindah tangan setelah diekstrak semuanya oleh intelejen Iran. Saatnya Pendidikan Nasional kita punya jati dirinya sendiri. Jangan fotocopy dari Barat. Karena peradaban mereka telah redup dan menjelang tenggelam.
*Esais adalah Pemerhati Masalah Oers dan Filsafat Pancasila
Nabire, Papua Tengah — centralmedia – Acara penobatan Kepala Suku Besar Watih di Taman Gizi Oyehe Nabire turut diwarnai dua sambutan penting dari Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Alfred Papare serta Asisten III Setda Papua Tengah yang mewakili Gubernur. Keduanya menekankan pesan persatuan, penghormatan adat, serta komitmen menjaga keamanan dan harmonisasi di wilayah Papua Tengah.
Gubernur Papua Tengah. “Penobatan Ini Amanah Leluhur dan Tonggak Persatuan”
Nabire, Papua Tengah – enagoNews – Gubernur Papua Tengah Meki F.Nawipa, S.H dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Asisten III Setda Provinsi Papua Tengah menyatakan, Penobatan Kepala Suku Besar Wate bukan hanya urusan adat internal, tetapi juga bagian penting dalam memperkuat tatanan sosial dan pembangunan daerah.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kami menyampaikan selamat kepada Bapak Otis Monei. Penobatan ini adalah amanah leluhur untuk menjaga nilai-nilai adat, memperkuat persatuan, dan menjadi jembatan antara masyarakat adat dan pemerintah,” ungkapnya.
Gubernur menyatakan bahwa Suku Wate memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah Nabire dan Papua Tengah. Nilai-nilai hidup orang Wate dinilai telah menjaga harmoni, keamanan, serta kebersamaan di wilayah tersebut.
Advertisement
Ia berharap kepemimpinan adat yang baru dikukuhkan mampu menghadapi tantangan zaman, meningkatkan sinergi dengan pemerintah, serta memajukan masyarakat Wate dan daerah sekitarnya.
“Kita berharap Suku Wate, melalui kepemimpinan Bapak Otis Monei, dapat mempersatukan berbagai suku yang hidup berdampingan di wilayah adat Watih. Persatuan ini penting untuk mewujudkan kemajuan Nabire dan Papua Tengah ke depan,” pungkasnya.
Kapolda: “Jangan Jadikan Suku Sebagai Alasan untuk Konflik”
Dalam sambutannya yang tegas, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Alfred Papare menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan Kepala Suku Besar Watih, Otis Monei, S.Sos., M.Si., serta mengapresiasi pesan-pesan adat yang disampaikan oleh pemimpin yang baru dinobatkan tersebut.
Kapolda mengajak seluruh masyarakat adat untuk bergandengan tangan menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Nabire serta wilayah Papua Tengah secara keseluruhan. Ia mengingatkan bahwa konflik yang terjadi di beberapa daerah sering kali disalahartikan sebagai konflik suku, padahal merupakan persoalan politik atau kepentingan kelompok tertentu.
“Sering kali kita memakai suku sebagai alasan untuk berkonflik, padahal adat tidak mengajarkan demikian. Dalam beberapa kasus, konflik politik dialihkan menjadi perang suku, dan ini merusak nilai-nilai adat,” tegas Kapolda.
Ia mencontohkan insiden di Kabupaten Puncak dan peristiwa di Kuam Kilama yang menelan korban jiwa, di mana provokasi dilakukan oleh oknum tertentu, termasuk pejabat daerah. Kapolda menegaskan bahwa nyawa adalah hak Tuhan dan tidak boleh dibalas dengan kekerasan atas nama adat.
Advertisement
“Yang berhak mencabut nyawa hanya Tuhan. Karena itu saya mengajak masyarakat untuk menghentikan konflik. Ketika upaya persuasif tidak berhasil, kami terpaksa mengambil langkah tegas untuk menghentikan pertumpahan darah,” ujarnya.
Kapolda mengakhiri sambutannya dengan apresiasi kepada Suku Wate yang dalam momentum penobatan ini menunjukkan semangat persatuan dan dukungan terhadap stabilitas keamanan daerah. Kapolda menyatakan bahwa sambutan Kepala Suku Besar Wate Otis Monei sama dengan melegitimasi dan mendukung program serta apa yang dijalankan pihaknya dalam penegakan hukum, menciptakan situasi dan kondisi Papua Tengan yang aman dan kondusif. (ing elsa)
“Nembawa Sentuhan Tradisi & Relaksasi Holistik ke Timur Indonesia”
Nabire, Papua Tengah -centralmedia – Martha Tilaar SPA resmi membuka outlet ke-91 di jantung kota Nabire, Papua Tengah. Berlokasi strategis di Jl. Yos Sudarso No. 7, Oyehe, Distrik Nabire, outlet ke-91 ini hadir sebagai oase ketenangan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang mendambakan relaksasi dan perawatan tubuh yang autentik, alami, dan berakar pada tradisi Indonesia.
Peresmian Martha Tilaar Spa Express Nabire berlangsung pada Jumat, 7 November 2025 dan dihadiri oleh pemilik franchise, Ibu Tanti Sri Mulyani, Ibu Wakil Bupati Nabire, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata, Ibu Martina Deba, S.E., Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Bapak Arfan Natan Palumpun, S.T., M.T., Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan Catherin Maruanaya, Pimpinan Perbankan, sejumlah pengusaha, serta tim Martha Tilaar SPA.
“Kami bangga bisa hadir di Nabire. Ini bukan sekadar ekspansi, tapi bentuk komitmen kami untuk merayakan kecantikan Indonesia dari barat hingga timur dengan layanan SPA yang tidak hanya memanjakan tubuh, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Ibu Wulan Maharani Tilaar, Direktur Martha Tilaar SPA.
Dengan konsep interior yang memadukan nuansa Indonesia dan sentuhan etnik khas Papua, Martha Tilaar Spa Express Nabire menawarkan pengalaman SPA menyeluruh, menggabungkan teknik tradisional, bahan-bahan alami, dan fasilitas modern dalam satu kesatuan harmoni. SPA ini dikelola oleh PT Cantika Puspapesona.
Menurut Ibu Ita Utamiwati, General Manager Martha Tilaar SPA, kehadiran outlet ini memperkuat komitmen perusahaan untuk menjangkau seluruh penjuru nusantara.
Advertisement
“Outlet Martha Tilaar SPA kini telah hadir dari Aceh hingga Papua. Kami harap kehadiran Martha Tilaar SPA di Nabire dapat memberikan pengalaman SPA yang holistik bagi semua kalangan,” jelasnya.
Martha Tilaar Spa Express Nabire menghadirkan berbagai layanan unggulan seperti body treatment, facial, reflexology, serta perawatan manicure dan pedicure. Semua layanan dirancang untuk memberikan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki bagi pria dan wanita, dengan menggunakan produk-produk alami khas Indonesia. Outlet ini dilengkapi fasilitas lengkap mulai dari ruang perawatan tubuh dan wajah, salon, reflexology, VIP room, jamu bar. “Kami ingin menghadirkan tempat relaksasi yang nyaman, profesional, dan berkelas bagi masyarakat Nabire. Kami berharap outlet ini tidak harıya menjadi tempat perawatan tubuh, tapi juga ruang untuk memulihkan energi dan merayakan kecantikan alami kita,” ujar ibu Tanti Sri Mulyani.
Sebagai bagian dari perayaan grand opening, Martha Tilaar Spa Express Nabire menawarkan promo spesial yaitu diskon 30% untuk semua treatment pada tanggal 7 November 2025. Sedangkan pada tanggal 8 November hingga 8 Desember 2025 ada diskon 20%. SPA ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIT.
Martha Tilaar SPA dikelola oleh PT. Cantika Puspapesona dengan staf professional yang berpengalaman di bidang kecantikan dan SPA.
PT. Cantika Puspapesona dapat menjadi pilihan terbaik untuk melakukan bisnis sambil melestarikan tradisi kecantikan Indonesia.
Terinspirasi oleh tradisi budaya perawatan kecantikan Indonesia di seluruh siklus hidup dikombinasikan dengan tren jaman baru kembali ke alam. SPA kecantikan dan harmoni telah diciptakan.
Melalui filosofi kecantikan total yang disebut Rupasampat Wahyabiantara, kita dapat menjelajahi perawatan kebijaksanaan kuno perawatan kecantikan sepanjang siklus hidup seorang wanita
Dengan keinginan mempersembahkan “The Authentic Indonesian SPA Experience” bagi pelanggannya, Martha Tilaar SPA menemukan konsep unit di setiap perawatan SPA-nya, sebuah pendekatan holistic menggunakan tradisi kesehatan dan kecantikan timur yang berusia berabad-abad lamanya.
Advertisement
PT. Cantika Puspapesona Gedung Puspita Martha lantai 3A 31. KH. Wahid Hasyim No. 19-21, Jakarta Pusat Telp. (021) 3192 6112 Martha Tilaar Spa Express Nabire 31. Yos Sudarso No.7, Oyehe Nabire.
Ditandai Pemotongan Pita dan Tumpeng Peresmian itu juga ditandai dengan pengguntingan pita oleh Owner Outlet Baru Martha Tilaar Nabire Tanti Srimulyani. Sementara pemotongan tumpeng dilakukan oleh Perwakilan PT.Cantika Puspapesona Ibu Leony dan Owner Outlet Baru Martha Tilaar Nabire Ibu Tanti Srimulyani. Potongan tumpeng oleh Ibu Leony diberikan kepada Ibu Tanti.
Sedangkan potongan tumpeng kedua oleh Owner kepada Manager Outlet Baru Martha Tilaar Nabire Ibu Rahayu. Ada hal menari saat Ibu Tanti Srimulyani memotong tumpeng, bila Ibu Leony memotong bagian atas, Ibu Tanti memotong bagian dasar/bawah dan hanya mengambil mie sebagai teman nasi.
Kepada Manager Outlet Baru Ibu Rahayu, Ibu Tanti mengatakan bahwa pengambilan tumpeng dari bagian bawah sebagai simbol bahwa perjuangan menuju kesuksesan harus dimulai dari bawah, sedang mengambil mie sebagai teman nasi padahal banyak menu didalamnya adalah menuju kehidupan yang lebih baik dan maju harus dengan kerja keras dan melalui kesulitan, tidak serta merta langsung enak dan sukses.(ing elsa)
Nabire, Papua Tengah— centralmedia – Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum penting bagi generasi muda Indonesia untuk mempertegas komitmen dalam meningkatkan semangat kebangsaan, memperkuat persatuan, dan menyiapkan diri menjadi pelaku utama pembangunan bangsa.
Dalam semangat peringatan ke-97 Tahun Sumpah Pemuda, generasi muda diingatkan agar tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga meneladani nilai perjuangan para pemuda pendiri bangsa. Semangat juang, kerja keras, dan pengorbanan yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928 harus menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman modern saat ini.
Pemuda masa kini diharapkan mampu memaknai Sumpah Pemuda dengan langkah konkret, di antaranya:
Meningkatkan kualitas diri. Pemuda harus terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan potensi agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Menjaga integritas. Kejujuran, tanggung jawab, dan etika dalam bertindak menjadi dasar penting membangun karakter pemuda yang terpercaya dan profesional.
Memiliki mental baja. Pemuda harus tangguh menghadapi berbagai tantangan, tidak mudah menyerah, dan tetap optimis dalam setiap situasi.
Berkarakter kuat dan peduli. Empati, kerja sama, dan kepedulian sosial perlu terus ditanamkan agar pemuda menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Gigih dan pantang menyerah. Dalam mencapai cita-cita, semangat juang harus senantiasa dijaga agar tidak padam oleh hambatan dan kegagalan.
Tokoh Pemuda Barisan Bhineka Tunggal Ika Papua Tengah, sekaligus Ketua Gabpeknas Provinsi Papua Tengah, Tabroni M.Cahya menegaskan bahwa semangat tersebut menjadi kunci bagi lahirnya generasi muda Indonesia yang berkualitas, berintegritas, dan berkarakter kuat, siap membawa Indonesia menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Di tengah era globalisasi dan transformasi digital, peran pemuda sangat vital dalam menentukan arah masa depan bangsa khususnya Papua Tengah. Karena itu, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga panggilan moral bagi setiap anak muda untuk terus bergerak, berkreasi, dan berkontribusi bagi kejayaan Indonesia. “Pernyataan sejumlah tokoh bangsa seperti Bung Karno, Ki Hajar Dewantoro serta tokoh-tokoh lain mengingatkan mengingatkan generasi muda bahwa persatuan adalah kunci kekuatan, keberagaman adalah aset, dan tantangan masa kini harus dihadapi dengan ilmu, karya, serta semangat pantang menyerah,” pungkasnya. (red)
Nabire, Papua Tengah– centralmedia- Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah menggelar upacara bendera di Lapangan Apel Mapolres Nabire, Selasa (28/10/2025).
Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Waka Polda) Papua Tengah, Kombes Pol. Muhajir, S.I.K., M.H., bertindak selaku Inspektur Upacara. Komandan Upacara dipercayakan kepada AKP Muhammad Jaidin, AKP Budi Santoso, S.Sos. sebagai Perwira Upacara, Ipda Azkha Munira, S.Tr.I.K. sebagai pembaca teks Pembukaan UUD 1945, dan Ipda Raymond Julian Naftali Erari, S.Tr.I.K. sebagai pembaca hasil Kongres Pemuda. Sementara pengibaran bendera Merah Putih dilakukan oleh Bripda Muh. Ilham, Bripda Randy Ramadhan, dan Bripda Fredrikus Bere.
Dalam amanatnya, Waka Polda Papua Tengah membacakan sambutan resmi Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Ia menegaskan bahwa ikrar Sumpah Pemuda yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar rangkaian kata, melainkan semangat yang menyatukan seluruh anak bangsa dalam satu tekad persatuan.
“Semangat itu masih relevan hingga hari ini, ketika kita menghadapi berbagai tantangan baru di era globalisasi dan kemajuan teknologi,” ujar Kombes Pol. Muhajir.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini mengusung tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”, yang menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak akan terwujud tanpa partisipasi aktif generasi muda.
“Pemuda dan pemudi Indonesia harus terus bergerak, berkarya, serta berinovasi demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju,” imbuhnya.
Di akhir sambutan, Waka Polda Papua Tengah mengajak seluruh generasi muda untuk menyalakan kembali api semangat perjuangan di dalam diri masing-masing, serta menjaga persatuan dan optimisme demi masa depan bangsa.
Advertisement
“Jadilah generasi penerus yang menjaga persatuan, memperjuangkan kemajuan, dan menyalakan harapan bagi masa depan negeri. Jayalah selalu pemuda Indonesia, jayalah bangsaku Indonesia,” tutupnya.
Upacara berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran Polda dan Polres Nabire, unsur Forkopimda, serta perwakilan organisasi kepemudaan di Kabupaten Nabire. (red)
– Tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang membakar sejumlah mahkota dan hiasan kepala berbulu burung Cenderawasih, Kasuari, dan Nuri menuai sorotan dari tokoh masyarakat Papua. Salah satunya Wilem Wandik. Iamenilai bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan niat baik untuk melindungi satwa langka, namun cara yang ditempuh dinilai keliru dan menyinggung nilai budaya masyarakat adat Papua.
“Kalau saya lihat, kemarin yang dilakukan itu sebenarnya tujuannya benar, yaitu untuk melindungi burung Cenderawasih. Itu memang sudah ada peraturan daerahnya. Tapi yang salah adalah caranya membakarnya di depan publik. Itu yang keliru,” ujar Willem Wandik, Jumat (24/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa burung Cenderawasih adalah simbol kehormatan dan identitas budaya masyarakat Papua. Tindakan pembakaran benda-benda adat yang menggunakan bulu Cenderawasih dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai budaya lokal, sekalipun dilakukan atas dasar penegakan hukum konservasi.
“Saya lebih setuju kalau yang selalu jual-jual Cenderawasih itu ditangkap dan diproses hukum, bukan barangnya yang dibakar di depan umum. Itu baru benar. Orang yang berburu dan menjual burung itu harus ditindak tegas, bukan simbol budayanya yang dimusnahkan,” tuturnya.
Advertisement
Menurutnya, kesalahan utama bukan pada upaya pelestarian satwa dilindungi, melainkan pada penempatan tindakan hukum yang tidak mempertimbangkan aspek sosial dan budaya masyarakat Papua.
“Benar, mereka mau mencegah pembunuhan Cenderawasih, itu bagus. Tapi caranya salah. Jangan bakar di depan orang banyak, apalagi benda adat yang punya nilai sakral. Yang harus ditunjukkan justru siapa yang menembak burung itu, siapa yang jual, dan siapa yang dapat untung dari situ. Itu yang ditangkap dan ditunjukkan ke publik,” ungkapnya menegaskan.
Hentikan Perburuan dan Hargai Budaya Papua
Tokoh itu juga mengimbau masyarakat, terutama para pemburu di kampung dan hutan, agar berhenti menangkap burung Cenderawasih dan satwa langka lainnya.
“Saya imbau kepada mereka yang masih berburu burung Cenderawasih, berhentilah. Jangan lagi ambil burung-burung itu di hutan. Karena itu bukan hanya soal satwa, tapi soal martabat budaya kita sendiri,” pintanya.
Advertisement
Politisi Partai Golkar itu menambahkan, kemarahan masyarakat Papua terhadap peristiwa pembakaran itu bukan semata karena benda yang dibakar, tetapi karena nilai budaya yang melekat di baliknya.
“Yang bikin orang Papua marah itu bukan soal barangnya, tapi karena itu bagian dari identitas dan budaya mereka. Orang Papua sangat menghormati seni dan simbol adat. Mahkota Cenderawasih itu bukan sekadar hiasan, tapi lambang harga diri,” ucapnya.
Wandik berharap agar ke depan, setiap langkah penegakan hukum di Tanah Papua, terutama yang menyangkut simbol budaya dan adat — dilakukan dengan pendekatan kultural dan edukatif, bukan tindakan yang bersifat represif atau provokatif.
“Budaya Papua itu mahal. Tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Maka ketika menegakkan aturan, harus ada dialog budaya. Jangan sampai niat baik untuk melindungi satwa justru menyinggung perasaan rakyat yang punya kearifan lokal sendiri,” tutupnya. (ing elsa)
Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs kami. Dengan menggunakan situs kami, Anda menyetujui penggunaan cookies.
Situs web ini menggunakan cookie
Situs web menyimpan cookie untuk meningkatkan fungsionalitas dan mempersonalisasi pengalaman Anda. Anda dapat mengelola preferensi Anda, tetapi memblokir beberapa cookie dapat memengaruhi kinerja dan layanan situs.
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
Name
Description
Duration
Cookie Preferences
This cookie is used to store the user's cookie consent preferences.
30 days
These cookies are needed for adding comments on this website.
Name
Description
Duration
comment_author_url
Used to track the user across multiple sessions.
Session
comment_author
Used to track the user across multiple sessions.
Session
comment_author_email
Used to track the user across multiple sessions.
Session
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Google Analytics is a powerful tool that tracks and analyzes website traffic for informed marketing decisions.
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager
1 minute
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
_gac_
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.